Loading...

Mengenal Hikikomori, Budaya Negatif Jepang yang Mengerikan

Seperti yang kita ketahui, Jepang merupakan salah satu negara maju yang terbesar di Asia. Kemajuan IPTEK, ekonomi, serta pendidikan di Je...


Seperti yang kita ketahui, Jepang merupakan salah satu negara maju yang terbesar di Asia. Kemajuan IPTEK, ekonomi, serta pendidikan di Jepang sudah sangat jauh berkembang. Namun, dibalik semua kehebatan dan kebesaran negara Jepang, tentu ada beberapa hal yang menjadi kemunduran akibat dampak dari semua kemajuan yang diperoleh negara matahari terbit tersebut.

Jujur, ane terinspirasi buat artikel ini gara-gara nonton anime Hataraku Maou-Sama. Ada scene yang menyebutkan tentang Hikikomori. Karena penasaran, ane googling dan menemukan info-info yang menarik sekaligus ngeri. Yuk, langsung disimak aja tulisan ane yang absurd tapi serius ini.


Pesatnya perkembangan dan kemajuan negara Jepang tentu tidak berjalan dengan indah. Jepang juga mengalami kemunduran di beberapa bidang. Salah satu hal yang paling menarik perhatian adalah masalah kemunduran di bidang sosial. Banyak sekali macam-macam penyakit psikologis yang diderita oleh masyarakat jepang. Kali ini saya akan membahas salah satunya, yang mungkin dekat dengan kebiasaan kita sebagai warga Indonesia, yaitu Hikikomori.


Ada yang sudah tahu Hikikomori belum? Hikikomori adalah suatu penyakit psikologis yang membuat penderitanya menarik diri dari kehidupan sosial, dan lebih memilih untuk mengurung diri di rumah/kamarnya. Nah, gampangnya, Hikikomori artinya sebutan buat orang kuper yang ga pernah keluar kamar.

Siapa aja yang biasa terjangkit Hikikomori?
Biasanya  Hikikomori adalah seorang pria yang berusia 13-18 tahun, walaupun terkadang ditemukan juga Hikikomori wanita, namun jumlahnya tak sebanyak Hikikomori pria.

Kenapa bisa terbentuk budaya Hikikomori?
Mungkin bagi yang suka nonton dorama-dorama yang bergenre slice-of-life sudah mengerti permasalahannya. Seperti yang kita udah tau, Jepang itu negara yang super sibuk. Nah, karena makin sibuk, jadi tingkat stres masyarakatnya sangat tinggi. Biasanya Hikikomori disebabkan karena faktor lingkungan keluarga. Kebanyakan disebabkan karena hilangnya figur seorang ayah. Yup, biasanya ada aja seorang ayah yang super sibuk. Pagi udah ilang, malem tiba-tiba udah tidur aja. Beberapa juga mengatakan penyebab Hikikomori adalah karena ibu yang terlalu memanjakan anaknya. Ya, jumlah anak dalam suatu keluarga di Jepang cenderung sedikit, gak kayak di Indonesia, kadang satu keluarga cukup untuk bikin sebuah peradaban baru di negara terpencil. Faktor lainnya adalah karena school bullying (dibuli di sekolahnya) sampai-sampai si anak gak tahan dan lebih memilih menjauh dari masyarakat. Ada juga yang ditimbulkan karena tekanan orang tua pada anak laki-laki. Di Jepang, seorang anak laki-laki memang lebih menjadi harapan keluarga untuk berbakat di bidang akademik dan sukses di lingkungan kerja dibanding anak perempuan. Selain itu, faktor video game juga tidak bisa dipungkiri, tau kan dunia game di jepang itu sangat-super-duper-kampret menggiurkan. Dan, ada faktor lainnya yang dekat dengan kita, Otaku.


Apakah Kegiatan Otaku membuat orang menjadi Hikikomori?
Bisa dibilang iya, bisa juga dibilang tidak. Di negri sakura sana, berkembang isu kalau seorang Hikikomori diawali dengan hobi Otaku. Memang benar, semua Hikikomori adalah seorang Otaku. Tapi, menurut bebearapa sumber, tidak 100% Otaku berakhir menjadi seorang Hikikomori. Jadi bisa disimpulkan seperti ini...
Para Hikikomori adalah Otaku, tapi Otaku belum tentu seorang Hikikomori.

Bagaimana cara hidup seorang Hikikomori?
Hal ini lah yang mungkin bisa menjadi batasan antara seorang Otaku dengan Hikikomori. Kita masih dapat disbut hanya seorang otaku apabila hobi kita sejalan dengan interaksi sosial. Misalnya, tetep suka nonton anime di kamar, tapi di sekolah masih tetap bisa ngobrol bareng temen. Lain halnya dengan seorang Hikikomori. Mereka hidup hanya di kamarnya saja. Biasanya seorang Hikikomori sama sekali tidak pernah keluar dari kamarnya. Bahkan untuk buang air kecil mereka melakukannya di botol (oh, yeah). Ada juga beberapa kasus dimana seorang Hikikomori menculik seorang gadis untuk ditaruh dikamarnya dan dijadikan "teman". Soal duit, tentu aja mereka pake uang bonyoknya. Mereka biasanya mendapat jatah perbulan, atau kadang orang tuanya sampai dipaksa untuk memenuhi kebutuhannya. Seorang yang sudah menjalani Hikikomori selama 1 tahun sudah dibilang parah. Walaupun nantinya mereka keluar, mereka akan terlihat aneh saat berada di luar rumah, dan itu memerlukan waktu untuk pemulihan yang cukup lama. Ada juga yang sampai 10 tahun! Sampai orang tua mereka pensiun dan akhirnya seorang Hikikomori kebingungan untuk mendapatkan uang. Tapi sejauh kasus-kasus yang berkembang di Jepang, belum ada yang sampai meninggal gara-gara Hikikomori.


Bagaimana hubungan budaya Hikikomori dengan Indonesia?
Walaupun belum ditemukan kasus serupa di negara kita ini. Namun, gejala-gejala kemunculannya patut kita waspadai. Mulai dari sekarang, saya sebagai sesama penggemar anime dan Japanese-Entertaiment ingin mengajak kita semua untuk segera sadar diri agar tidak terlalu tenggelam di hobi kita. Ingatlah, hobi sih boleh-boleh aja, tapi kenyataan tetaplah kenyataan.

Yak, bagaimana tentang penjelasan ane tadi. Ngeri ya? Ternyata kehidupan orang di Jepang sekeras itu. Beruntunglah kita yang hidup damai walau perut keroncongan di Indonesia. Cukup kita nikmati hiburannya aja yang dari Jepang. Jangan sampai budaya Hikikomori juga kita ikuti. Itu budaya bener-bener horor deh. Bahkan lebih horor dari Harakiri menurut ane.

Berikut ada video singkat ilustrasi seorang Hikikomori. Tentang bagaimana cara mereka menjalani kehidupannya sampai bagaimana mereka mengakhirinya. Silakan disimak, jangan pelit-pelit buat buffer ya. Cuma 6 menit kok :)




source:
http://www.apasih.com/2012/07/hikikomori-fenomena-penyakit-sosial-di.html
http://blackuro.blogspot.com/2010/07/jangan-jadi-hikikomori.html
http://recobarna.wordpress.com/2013/04/05/hikikomori-amatiran/
Culture 600249946510938674

Posting Komentar

  1. Wow Nice info gan Hikikomori ngeri juga kalau pikir.. >_<

    BalasHapus
  2. wao info yang sangat menarik ijin copas di blog saya ya http://istana-anime.blogspot.com terima kasih

    BalasHapus
  3. sankyu buat semuanya drunk drunk

    BalasHapus
  4. mengerikan, tq buat infonya bermanfaat sekali

    BalasHapus
  5. sekarang gw tau kenapa orang jepang senang berfantasi :v

    BalasHapus
  6. wew...nice info gan drunk

    ane jg sering mengurung diri di kamar, tpi kalo di skolah ane masih sring berinteraksi dgn teman kelas
    ane gk trmasuk hikikomori kan hmmm hmmm hmmm

    BalasHapus
    Balasan
    1. selama masih bisa keluar rumah, anda belum hikikomori order

      Hapus
  7. tp bener juga kan..kbanyakan otaku kan seneng banget sama hobi di dlam rumah

    BalasHapus
  8. Nice info Min...
    Sesama pecinta Hal-hal yang berbau Jepang harus saling mengingatkan ...^^

    BalasHapus
  9. parah..untung ane gak ampe kaya gitu..cuma pas libur doang diem di kamar nonton anime seharian..hahaha

    BalasHapus

emo-but-icon

Beranda item

[EVENT] Doki Doki Festival

[EVENT] COSGRAPH 2014

Sosmed-Arena

UTAINDO


Follow by Email

Gabung dengan Kami

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *